KEKECEWAAN MERUSAK KEBAHAGIAAN
( Mat. 11 : 2 - 11 )
Catatan :
KECEWA : Merasa tdk senang/tdk puas krn tdk mendptkan harapannya, keinginannya, dugaannya.
OFFEND : Any cause of anger or displeasure.
DISOPPOINT : To frustrate the hopes or expactation.
SKANDALISTHE (bhs. Yunani) : Offend
PENDAHULUAN :
Semua orang tentunya sudah pernah kecewa, yaitu perasaan tidak senang atau tidak puas karena tidak mendapatkan apa yg diharapkannya, diinginkannya, atau yang diduganya.
Perasaan ini bisa berlanjut ketindakan yang bersifat tidak baik - criminal/skandal – contohnya para penonton pertandingan sepak bola dsb.
Dalam bhs Yunani, kata kecewa adalah SKANDALISTHE.
Ini menunjukkan bhw kekecewaan membuat hidup seseorang akan menjadi rusak bahkan bahaya, apalagi kekecewaan thd keyakinan seseorang kepada Tuhan, ini akan berakibat fatal dalam hidupnya.
Karena itulah Tuhan Yesus berfirman,”Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”(Mat. 11:6)
Itu berarti, kalau kita mau hidup berbahagia kita harus belajar menjauhkan diri dari perasaan kecewa dalam hidup kita. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita bisa menjauhkan diri atau menghindar dari perasaan kecewa itu. Siapapun kita, tidak lepas dari rasa kecewa. Kekecewaan itu bisa muncul secara spontan atau otomatis dalam hati kita, pada saat kita melihat suatu kenyataan apa yang kita harapkan jauh dari harapan kita. Nah, bagaimana caranya supaya kekecewaan itu tidak berlarut-larut bercokol dalam hati kita, dan kalau bisa segera lenyap.
Tentunya hanya Firman Tuhan yang dapat memberikan penjelasan pada kita. Mari kita kembali ke perikop kita.
ISI RENUNGAN
I. HARAPAN KITA HARUS BERADA DIDALAM RANCANGAN TUHAN. ( Mat. 11 : 7 – 10 ; Yes.55:8))
Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh Herodes karena dia mengingatkan kesalahan dan dosa raja Herodes itu. Ketika Yohanes Pembaptis berada dalam penjara, ia menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus, apakah Yesus itu memang Mesias atau bukan.
Pertanyaan ini diajukan pada saat ia berada dalam penjara. Penjara membuatnya ragu-ragu mengenai Yesus. Dia yg pernah berkata pada org banyak dihadapan Tuhan Yesus dengan ilham Roh Kudus, bahwa Yesus adalah Mesias, anak Domba Allah yang menanggung dosa manusia ( Yoh. 1 : 29), ternyata bisa menjadi ragu-ragu terhadap Yesus.
Tentunya ia yakin bhw ia akan menyaksikan peristiwa yang spektakuler bakal terjadi dengan diri Yesus ketika Yesus melaksanakan tugasnya sebagai Mesias. Tapi nyatanya ia berada dalam penjara. Keinginannya , harapannya utk menyaksikan peristiwa itu pasti tidak tercapai. Hal inilah yang bisa membuat dia kecewa.
Karena itulah Yesus berkata pada murid-murid Yohanes Pembaptis utk menyampaikan pesan yg sangat penting utk dia, yaitu perkataan,”Berbahagialah org yang tdk menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Tentunya Yesus tahu bahwa Yohanes Pembaptis akan kecewa. Harapannya, keinginannya, kerinduannya tidak tercapai. Dia tdk dpt menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi dalam diri Yesus.
Bagaimana selanjutnya dengan Yohanes Pembaptis pada saat Herodes memerintahkan prajuritnya untuk memancung kepalanya ? Saya yakin, hukuman mati yang diperintahkan raja Herodes itu, dihadapinya dgn hati yg tabah sebab ia tlh dikuatkan dgn Firman Tuhan Yesus itu.
Pasti yg terpikir oleh Yoh.Pemb. bahwa yg terpenting adalah terlaksananya rancangan Allah tercapai, manusia diselamatkan dari dosa-dosanya, walaupun ia sendiri tdk menyaksikan peristiwa yg sangat bersejarah itu. Harapannya berada dibawah rancangan Allah.
Seperti inilah yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menghendaki bahwa harapan kita, cita-cita kita dan keinginan kita harus berada di bawah rancangan Allah. Allah mengetahui harapan, cita-cita dan keinginan kita. Allah akan mengabulkan apa yang kita harapkan ,karena Allah sebagai Bapa kita yang penuh kasih tapi karena Dia punya rancanganNya sendiri dalam hidup kita , maka apa yg kita harapkan tidak kita alami.
Ada seorang pemuda, sejak kecil bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia belajar dengan sungguh-sunguuh supaya apa yang dicita-citakannya ini tercapai. Dan ia berhasil. Ia selalu ranking pertama di kelasnya. Dia lulus SMA dengan nilai yg sangat baik. Dia siap-siap utk mendaftarkan diri di Fakultas kedokteran. Tapi apa yang terjadi ? Ternyata ayahnya membutuhkan tambahan modal untuk usahanya sehingga biaya untuk kuliah difaklutas kedokteran menjadi masalah. Akhirnya ia mengambil fak yang lain yang biayanya tidak semahal di Fak kediokteran. Pemuda ini menyadari, rencana ayahnya untuk meningkatkan usahanya demi masa depan keluarga, adalah hal yang lebih penting. Apa gunanya bisa masuk ke fak kedokteran tapi setengah jalan, krn tdk sanggup membayar uang perkuliahan. Akhir cerita, pemuda itu menjadi pimpinan perusahaan ayahnya dengan gelar sarjana ekonomi, dia berhasil.
Sebaliknya, ada seorang pemuda yang sangat kecewa dengan apa yang dialaminya. Ayahnya berjanji akan membelikannya motor bila lulus SMA, bukan sekedar sebagai hadiah tapi juga sebagai kebutuhan untuk pergi kuliah. Pemuda ini sdh membayang-bayangkan betapa senangnya punya motor dan mengendarainya. Ternyata apa yg terjadi ? Pada saat ia lulus, adik laki-lakinya yang masih SD sakit demam berdarah. Harus dirawat di rumah sakit. Uang yang sedianya untuk membeli motor untuk pemuda ini, akhirnya dipakai orang tuanya untuk biaya rumah sakit. Pemuda ini kecewa berat. Ia berkata pd orang tuanya, bhw orang tuanya lebih sayang adiknya daripada dia. Lalu ia menjadi anak yang keras kepala dan pembangkang, dia tdk mau kuliah, dan kerjanya hanya keluyuran dengan teman-temannya yang juga dalam keadaan kekecewaan.
Dari dua contoh ini menunjukkan kepada kita, bahwa cita-cita atau harapan kita harus berada di bawah rancangan Allah. Rancangan kita baik, harapan kita baik, tapi yang terlebih baik adalah rancangan Allah.
Firman Tuhan mengatakan bhawa Tuhan mempunyai rancangan dalam hidup kita. Bahkan bisa saja rancangan Tuhan berbeda dengan harapan dan cita-cita kita. Maka kita sebagai anak-anakNya, umat ciptaanNya harus tunduk dalam rancangan Allah ini. Sebab rancangan Allah adalah rancangan yang terbaik buat hidup kita menurut pertimbangan dan pemikiran Tuhan yg sangat sempurna.
Jangan kecewa bila pemuda/I mendapatkan suami/istri yang tdk sesuai dengan harapan. Berbahagialah kita kalau kita tidak kecewa.
II. NILAI PENGHARAPAN DUNIAWI HARUS BERADA DI BAWAH PENGHARAPAN SORGAWI. ( Mat. 11 : 11, Ibr. 6 : 19 - 20)
Yesus mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang yang besar, (The greater man ) yang patut mendapat penghargaan dan kehormatan karena hasil kerjanya sebagai hamba Tuhan. Tapi Tuhan mengatakan bahwa kebesaran Yohanes di dunia masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kebesaran, kemuliaan, penghormatan, penghargaan di Sorga.
Saya yakin, Yoh. Pem. bakal kecewa berat kalau kebesaran duniawi memang jadi cita-citanya. Dia yang cinta pada kebenaran, keadilan dan cinta pada rakyat kok dipenjarakan oleh raja. Seharusnya kan raja yang harus berterima kasih padanya karena ia sudah mengingatkan dosa-dosanya. Seharusnya kan ia dapat jabatan di istana, mengapa justrus sebaliknya ia dipenjarakan ? Seharusnya kan Tuhan memberikan pembelaan dengan kemahakuasaanNya, sebab dia lakukan ini demi menjalankan tugas panggilan sebagai hamba Tuhan. Mengapa Allah Bapa diam saja, mengapa Yesus seolah-olah cuek saja.
Yohanes bukan mencari kebesaran duniawi atau kemuliaan duniawi. Justru murid-muridnya menjadi pengikut Yesus-pengikut Yesus karena ucapannya, “Lihatlah Anak Domba Allah”. Ia menyuruh murid-muridnya untuk mengikut Yesus. Dia melakukan pekerjaannya bukan untuk yang sementara tapi utuk yang kekal.
Tidak salah kita mencari kebesaran duniawi, kemegahan duniawi, kemuliaan duniawi, kekayaan duniawi. Tapi kita harus ingat bahwa kebesaran dan kemuliaan sorgawi jauh melebihi kebesaran dan kemuliaan duniawi. Kekecewaan akan terjadi terus menerus dalam hidup kita kalau kebesaran duniawi kita pandang lebih besar atau lebih utama dari pada kebesaran sorgawi.
Kalau pada suatu hari, dalam hidup kita, kita ngalami air susu dibalas dengan air tubah, kecewakah kita ?
Kalau suami ibu berkata,”Kok masakankannya ga enak sih !!!”, kecewakah hai istri-istri ?
Kalau sang istri berkata,”Pi, papi ini kok selalu kucel, slebor. Bepergian pake sandal, celana jin yg jarang dicuci, kaos kummel. Lihat dong suami si Linda, rapih, necis kan enak dilihatnya….! Bagaimana sikap bapak kecewakah ?
Kalau anak yang sudah membantu orang tuanya dengan penuh sukacita, tapi dicela dan malahan dibego-begoin. Bagaimana ? Kecewakah……?
Ingat kebesaran dan kemuliaan sorgawi lebih besar dari kebesaran dan kemuliaan sorgawi, tidak perlu kecewa apalagi sakit hati. Sebab kecewa dan sakit hati merusak kehidupan kita. Sebaliknya yg tdk kecewa dan sakit hati akan berbahagia krn ia akan sehat dan berumur panjang.
Kalau Yohanes Pembaptis menyuruh murid-murid bertanya pada Yesus ttg kemessiasanNya, bukan karena dia kecewa, tapi karena ia mau lebih diyakinkan lagi. Walaupun ia sebagai hamba Tuhan tapi dia juga sebagai manusia yang tidak luput dari keraguan, kelemahan dan ketidak berdayaan. Dia perlu diyakinkan dan dikuatkan oleh TuhanYesus.
Begitu pula firman Tuhan pada saat ini disampaikan pada Anda bukan karena Anda adalah salah seorang yang kecewa dan frustrasi, tapi mengingatkan Anda, bahwa kalau kita hidup jauh dari kekecewaan maka kita menjadi orang-orang yang berbahagia.
Peristiwa salib atau kematian Yesus, yang selalu kita peringati melalui perjamuan kudus, kalau dilihat dari sudut kebesaran duniawi, membuat Anda dan saya kecewa. Kok sang Mesias mati tersalib, tapi dilihat dari sudut kemuliaan sorgawi, melalui kematian Yesus dosa manusia diampuni, jiwa-jiwa manusia diselamatkan.
PENUTUP :
Firman Tuhan mengajar kita :
Catatan :
KECEWA : Merasa tdk senang/tdk puas krn tdk mendptkan harapannya, keinginannya, dugaannya.
OFFEND : Any cause of anger or displeasure.
DISOPPOINT : To frustrate the hopes or expactation.
SKANDALISTHE (bhs. Yunani) : Offend
PENDAHULUAN :
Semua orang tentunya sudah pernah kecewa, yaitu perasaan tidak senang atau tidak puas karena tidak mendapatkan apa yg diharapkannya, diinginkannya, atau yang diduganya.
Perasaan ini bisa berlanjut ketindakan yang bersifat tidak baik - criminal/skandal – contohnya para penonton pertandingan sepak bola dsb.
Dalam bhs Yunani, kata kecewa adalah SKANDALISTHE.
Ini menunjukkan bhw kekecewaan membuat hidup seseorang akan menjadi rusak bahkan bahaya, apalagi kekecewaan thd keyakinan seseorang kepada Tuhan, ini akan berakibat fatal dalam hidupnya.
Karena itulah Tuhan Yesus berfirman,”Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”(Mat. 11:6)
Itu berarti, kalau kita mau hidup berbahagia kita harus belajar menjauhkan diri dari perasaan kecewa dalam hidup kita. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita bisa menjauhkan diri atau menghindar dari perasaan kecewa itu. Siapapun kita, tidak lepas dari rasa kecewa. Kekecewaan itu bisa muncul secara spontan atau otomatis dalam hati kita, pada saat kita melihat suatu kenyataan apa yang kita harapkan jauh dari harapan kita. Nah, bagaimana caranya supaya kekecewaan itu tidak berlarut-larut bercokol dalam hati kita, dan kalau bisa segera lenyap.
Tentunya hanya Firman Tuhan yang dapat memberikan penjelasan pada kita. Mari kita kembali ke perikop kita.
ISI RENUNGAN
I. HARAPAN KITA HARUS BERADA DIDALAM RANCANGAN TUHAN. ( Mat. 11 : 7 – 10 ; Yes.55:8))
Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh Herodes karena dia mengingatkan kesalahan dan dosa raja Herodes itu. Ketika Yohanes Pembaptis berada dalam penjara, ia menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus, apakah Yesus itu memang Mesias atau bukan.
Pertanyaan ini diajukan pada saat ia berada dalam penjara. Penjara membuatnya ragu-ragu mengenai Yesus. Dia yg pernah berkata pada org banyak dihadapan Tuhan Yesus dengan ilham Roh Kudus, bahwa Yesus adalah Mesias, anak Domba Allah yang menanggung dosa manusia ( Yoh. 1 : 29), ternyata bisa menjadi ragu-ragu terhadap Yesus.
Tentunya ia yakin bhw ia akan menyaksikan peristiwa yang spektakuler bakal terjadi dengan diri Yesus ketika Yesus melaksanakan tugasnya sebagai Mesias. Tapi nyatanya ia berada dalam penjara. Keinginannya , harapannya utk menyaksikan peristiwa itu pasti tidak tercapai. Hal inilah yang bisa membuat dia kecewa.
Karena itulah Yesus berkata pada murid-murid Yohanes Pembaptis utk menyampaikan pesan yg sangat penting utk dia, yaitu perkataan,”Berbahagialah org yang tdk menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Tentunya Yesus tahu bahwa Yohanes Pembaptis akan kecewa. Harapannya, keinginannya, kerinduannya tidak tercapai. Dia tdk dpt menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi dalam diri Yesus.
Bagaimana selanjutnya dengan Yohanes Pembaptis pada saat Herodes memerintahkan prajuritnya untuk memancung kepalanya ? Saya yakin, hukuman mati yang diperintahkan raja Herodes itu, dihadapinya dgn hati yg tabah sebab ia tlh dikuatkan dgn Firman Tuhan Yesus itu.
Pasti yg terpikir oleh Yoh.Pemb. bahwa yg terpenting adalah terlaksananya rancangan Allah tercapai, manusia diselamatkan dari dosa-dosanya, walaupun ia sendiri tdk menyaksikan peristiwa yg sangat bersejarah itu. Harapannya berada dibawah rancangan Allah.
Seperti inilah yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menghendaki bahwa harapan kita, cita-cita kita dan keinginan kita harus berada di bawah rancangan Allah. Allah mengetahui harapan, cita-cita dan keinginan kita. Allah akan mengabulkan apa yang kita harapkan ,karena Allah sebagai Bapa kita yang penuh kasih tapi karena Dia punya rancanganNya sendiri dalam hidup kita , maka apa yg kita harapkan tidak kita alami.
Ada seorang pemuda, sejak kecil bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia belajar dengan sungguh-sunguuh supaya apa yang dicita-citakannya ini tercapai. Dan ia berhasil. Ia selalu ranking pertama di kelasnya. Dia lulus SMA dengan nilai yg sangat baik. Dia siap-siap utk mendaftarkan diri di Fakultas kedokteran. Tapi apa yang terjadi ? Ternyata ayahnya membutuhkan tambahan modal untuk usahanya sehingga biaya untuk kuliah difaklutas kedokteran menjadi masalah. Akhirnya ia mengambil fak yang lain yang biayanya tidak semahal di Fak kediokteran. Pemuda ini menyadari, rencana ayahnya untuk meningkatkan usahanya demi masa depan keluarga, adalah hal yang lebih penting. Apa gunanya bisa masuk ke fak kedokteran tapi setengah jalan, krn tdk sanggup membayar uang perkuliahan. Akhir cerita, pemuda itu menjadi pimpinan perusahaan ayahnya dengan gelar sarjana ekonomi, dia berhasil.
Sebaliknya, ada seorang pemuda yang sangat kecewa dengan apa yang dialaminya. Ayahnya berjanji akan membelikannya motor bila lulus SMA, bukan sekedar sebagai hadiah tapi juga sebagai kebutuhan untuk pergi kuliah. Pemuda ini sdh membayang-bayangkan betapa senangnya punya motor dan mengendarainya. Ternyata apa yg terjadi ? Pada saat ia lulus, adik laki-lakinya yang masih SD sakit demam berdarah. Harus dirawat di rumah sakit. Uang yang sedianya untuk membeli motor untuk pemuda ini, akhirnya dipakai orang tuanya untuk biaya rumah sakit. Pemuda ini kecewa berat. Ia berkata pd orang tuanya, bhw orang tuanya lebih sayang adiknya daripada dia. Lalu ia menjadi anak yang keras kepala dan pembangkang, dia tdk mau kuliah, dan kerjanya hanya keluyuran dengan teman-temannya yang juga dalam keadaan kekecewaan.
Dari dua contoh ini menunjukkan kepada kita, bahwa cita-cita atau harapan kita harus berada di bawah rancangan Allah. Rancangan kita baik, harapan kita baik, tapi yang terlebih baik adalah rancangan Allah.
Firman Tuhan mengatakan bhawa Tuhan mempunyai rancangan dalam hidup kita. Bahkan bisa saja rancangan Tuhan berbeda dengan harapan dan cita-cita kita. Maka kita sebagai anak-anakNya, umat ciptaanNya harus tunduk dalam rancangan Allah ini. Sebab rancangan Allah adalah rancangan yang terbaik buat hidup kita menurut pertimbangan dan pemikiran Tuhan yg sangat sempurna.
Jangan kecewa bila pemuda/I mendapatkan suami/istri yang tdk sesuai dengan harapan. Berbahagialah kita kalau kita tidak kecewa.
II. NILAI PENGHARAPAN DUNIAWI HARUS BERADA DI BAWAH PENGHARAPAN SORGAWI. ( Mat. 11 : 11, Ibr. 6 : 19 - 20)
Yesus mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang yang besar, (The greater man ) yang patut mendapat penghargaan dan kehormatan karena hasil kerjanya sebagai hamba Tuhan. Tapi Tuhan mengatakan bahwa kebesaran Yohanes di dunia masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kebesaran, kemuliaan, penghormatan, penghargaan di Sorga.
Saya yakin, Yoh. Pem. bakal kecewa berat kalau kebesaran duniawi memang jadi cita-citanya. Dia yang cinta pada kebenaran, keadilan dan cinta pada rakyat kok dipenjarakan oleh raja. Seharusnya kan raja yang harus berterima kasih padanya karena ia sudah mengingatkan dosa-dosanya. Seharusnya kan ia dapat jabatan di istana, mengapa justrus sebaliknya ia dipenjarakan ? Seharusnya kan Tuhan memberikan pembelaan dengan kemahakuasaanNya, sebab dia lakukan ini demi menjalankan tugas panggilan sebagai hamba Tuhan. Mengapa Allah Bapa diam saja, mengapa Yesus seolah-olah cuek saja.
Yohanes bukan mencari kebesaran duniawi atau kemuliaan duniawi. Justru murid-muridnya menjadi pengikut Yesus-pengikut Yesus karena ucapannya, “Lihatlah Anak Domba Allah”. Ia menyuruh murid-muridnya untuk mengikut Yesus. Dia melakukan pekerjaannya bukan untuk yang sementara tapi utuk yang kekal.
Tidak salah kita mencari kebesaran duniawi, kemegahan duniawi, kemuliaan duniawi, kekayaan duniawi. Tapi kita harus ingat bahwa kebesaran dan kemuliaan sorgawi jauh melebihi kebesaran dan kemuliaan duniawi. Kekecewaan akan terjadi terus menerus dalam hidup kita kalau kebesaran duniawi kita pandang lebih besar atau lebih utama dari pada kebesaran sorgawi.
Kalau pada suatu hari, dalam hidup kita, kita ngalami air susu dibalas dengan air tubah, kecewakah kita ?
Kalau suami ibu berkata,”Kok masakankannya ga enak sih !!!”, kecewakah hai istri-istri ?
Kalau sang istri berkata,”Pi, papi ini kok selalu kucel, slebor. Bepergian pake sandal, celana jin yg jarang dicuci, kaos kummel. Lihat dong suami si Linda, rapih, necis kan enak dilihatnya….! Bagaimana sikap bapak kecewakah ?
Kalau anak yang sudah membantu orang tuanya dengan penuh sukacita, tapi dicela dan malahan dibego-begoin. Bagaimana ? Kecewakah……?
Ingat kebesaran dan kemuliaan sorgawi lebih besar dari kebesaran dan kemuliaan sorgawi, tidak perlu kecewa apalagi sakit hati. Sebab kecewa dan sakit hati merusak kehidupan kita. Sebaliknya yg tdk kecewa dan sakit hati akan berbahagia krn ia akan sehat dan berumur panjang.
Kalau Yohanes Pembaptis menyuruh murid-murid bertanya pada Yesus ttg kemessiasanNya, bukan karena dia kecewa, tapi karena ia mau lebih diyakinkan lagi. Walaupun ia sebagai hamba Tuhan tapi dia juga sebagai manusia yang tidak luput dari keraguan, kelemahan dan ketidak berdayaan. Dia perlu diyakinkan dan dikuatkan oleh TuhanYesus.
Begitu pula firman Tuhan pada saat ini disampaikan pada Anda bukan karena Anda adalah salah seorang yang kecewa dan frustrasi, tapi mengingatkan Anda, bahwa kalau kita hidup jauh dari kekecewaan maka kita menjadi orang-orang yang berbahagia.
Peristiwa salib atau kematian Yesus, yang selalu kita peringati melalui perjamuan kudus, kalau dilihat dari sudut kebesaran duniawi, membuat Anda dan saya kecewa. Kok sang Mesias mati tersalib, tapi dilihat dari sudut kemuliaan sorgawi, melalui kematian Yesus dosa manusia diampuni, jiwa-jiwa manusia diselamatkan.
PENUTUP :
Firman Tuhan mengajar kita :
Kita akan berbahagia bila kekecewaan jauh dari kita dan
hidup akan jauh dari kekecewaan bila :
1. Cita-cita dan harapan kita berada di bawah rancangan Allah.
2. Milihat nilai kebesaran duniawi berada di bawah nilai kebesaran/kemuliaan sorgawi.
A m I n